Merawat Ke-Indonesia-an & Ke-Islam-an

 


Catatan Diskusi Keummatan ICMI Kalsel :

“Merawat Ke-Indonesia-an dan Ke-Islam-an”

Bersama Prof Dr Jimly Assiddiqi (Ketua Umum ICMI Pusat)

Treepark Hotel Banjarmasin, Sabtu, 07 September 2019, Pukul : 10.00 s.d. 12.00 Wita

 

Sambutan Pengantar Dr Taufik Arbain, M.Si (Sekretaris ICMI Orwil Kalsel)

Pandangan2 kondisi ke-Islam-an dan ke-Indonesia-an kita, bagaimana kita tergiring dan menohok bangsa sendiri, tajam ke bawah tumpul keatas, ada yang ingin menghancurkan Islam, padahal Islam di negeri ini penanam saham terbesar, Penting Amandemen ke 5 UUD.

Jimly Assiddiqi (Ketua Umum ICMI Pusat)

Semestinya ibukota Indonesia di selatan, jadi tidak jauh dari bagian Indonesia yang lain, faktanya alur orang dan barang masuk dari sumatera, jawa, bali, NTB, Sulawesi,  Ambon sampai Papua, masuk ke Kalimantan dari selatan dulu, baru ke penjuru Kalimantan yang lain, Jadi Kalimantan Selatan ini adalah pintu gerbang dan penyangga Ibukota termasuk dalam ekonomi, di seluruh Kalimantan ada urang Banjar dan profesinya kebanyakan adalah pedagang,  bahkan hampir seluruh Indonesia, terdapat perantau urang banjar, mirip dengan orang padang. Di tempat asal saya Sumatera Selatan misalnya, ada kota yang bernama Martapura, istilah-istilah misalnya “langgar” adalah penyebutan yang sama dengan Mushalla, makanan khas misalnya tempoyak dan patin, sama dalam penyebutan maupun bentuknya.  

Dalam sejarah Indonesia dalam penggambaran kekayaan Indonesia, ada  buku yang ditulis oleh orang brazil ahli geologi yaitu Paradise in North = Syurga Di Timur,  dan penulis yang lain dengan judul buku “Atlantis The Loss Continent = Banua Atlantis yang hilang. Fakta sejarah juga membuktikan, penemuan fosil manusia purba tertua didunia, ditemukan di sangiran jawa timur, dan bisa jadi Kalimantan ini tempat berdiamnya Nabi Nuh, sebelum ditenggelamkan.

Karunia Allah terhadap negeri yang didiami kaum muslimin, dari Maroko sampai Merauke, adalah negeri-negeri yang di karunia kekayaan alam yang berlimpah, dan ini menjadi sasaran kaum penjajah sejak zaman dahulu sampai sekarang, yang sebenarnya sangat ditakuti oleh kaum penjajah tersebut kalau negeri-negeri tersebut menyadari dan memanfaatkan kekayaan alamnya dengan baik, kualitas SDM nya mampu bersaing, ilmu pengetahuannya dan teknologinya berkembang dan mumpuni, otomatis merajai ekonomi global, sehingga semestinya yang menguasai dan mengendalikan dunia adalah negeri-negeri tersebut, tapi faktanya ternyata tidak.

Memiliki kekayaan alam tetapi karena SDMnya rendah, ilmu pengetahuan dan teknologi  dikuasai dan di eksplore bangsa lain, sehingga dalam hal ekonomi juga dikendalikan bangsa lain, sebagai salah satu ilustrasinya, ternyata dalam Jurnal Ilmiah Internasional pada saat ini, penulis Muslim (dari Maroko sampai Merouke), paling sedikit.

Pilpres Amerika adalah pilpres termahal, tiga kali lipat dari pilpres sebelumnya, pemenangnya adalah konglomerat besar Donald Trump, kerajaan bisnis masih dia dipegang, sehingga keputusan sebagai presiden, sebenarnya keputusan rapat bisnis korporasinya.

Dan para pejabatnya sebenarnya adalah petugas partai, karena para politisi itu di biayai pemilik modal, maka bisa dikatakan negara menjadi korporasi, bagaimana dengan Indonesia ?, sudah hampir seperti itulah yang sekarang terjadi.

Islam dalam pandangan Barat secara elite politik; mereka fhobia, karena itu selalu digaungkan Wacana, Narasi  anti Islam, akan tetapi ditengah kebencian itu, karena orang barat adalah orang yang rasionalis,  banyak  orang perorangan penasaran dan belajar tentang Islam, dan ini berakibat terbukanya kebenaran Islam, timbulnya kesadaran (=hidayah), sehingga   banyak yang kemudian masuk Islam, maka suatu hari nanti tidak mustahil pemeluk agama Islam menjadi nomor satu, sekarang pemeluk agama nomor satu di dunia  adalah Kristen (kalau katolik+protestan+ortodoks digabung menjadi satu).

Protestan dan Katolik seperti Syiah dan Sunni, ada guyonan tapi serius, bahwa cara pandang orang Indonesia terpresentasikan bagaimana dia tergabung dalam Grup WA, bisa sangat ekstrim perbedaan pandangannya, karena itu solusinya harus menampilkan Islam yang ramah, santun, bersahabat, toleran, dan Rahmatan Lil ‘Alamin.

Bagi seorang muslim sunah rasul tidak hanya tentang poligami, tapi semestinya bisnis (ekonomi) juga, dan ini jihad, bagaimana Nabi Muhammad dan istri beliau Siti Khadijah, sebagai pedagang yang sukses, tetapi bisnis yang sukses itu hanya dijadikan sebagai alat dan metode dakwah, bukan untuk memperkaya diri sendiri dan keluarga, karena tujuannya adalah kejayaan Islam, tanpa dukungan khadijah nabi Muhammad tidak berhasil berdakwah, dan tergambar di menjelang meninggalnya Khadijah, meminta sorban Rasullullah sebagai kain kafannya, karena sudah tidak ada lagi uang walau hanya untuk membeli kain kafan.  

Dalam sejarah Indonesia, tahun 1905 berdiri Syarikat Dagang Islam,  sebagai bentuk pergerakan dan bangkitnya kesadaran sangat pentingnya bersyarikat dan bersatu berjuang bersama dalam bidang ekonomi, sehingga tahun1905 lah semestinya sebagai Kebangkitan Indonesia.

Diikuti tahun 1908, Budi Utomo berdiri, sebagai bentuk bangkitnya kesadaran bersatu dan berjuang bersama dalam bidang politik.

Syarikat Dagang Islam, kemudian merubah diri menjadi gerakan politik dengan nama Partai Syarikat Islam, dengan berganti nama dan haluannya adalah politik, ruh “dagang” (=ekonomi) ditinggalkan, semestinya untuk partai membuka baru dengan nama baru, sehingga kedua-duanya bisa tetap jalan. Karena itu, sekarang harus dihidupkan lagi, karena lewat ekonomilah yang menjadi penentu.

Benih2 isu sara belum selesai meski pilpres sudah selesai, adanya nuansa ketidak adilan perlakuan, hukum yang tumpul ke atas, tajam ke bawah, negeri mayoritas muslim tidak diperlakukan sebagaimana semestinya mayoritas, dll, dan sebagai negara muslim terbesar di dunia, negara demokrasi ketiga terbesar di dunia, Negara dengan jumlah penduduk keempat di dunia, harus terus diperbaiki dan dirawat dari waktu ke waktu.

Tidak berfungsinya lembaga negara seperti  DPD, tidak nyambungnya antara pemerintahan daerah satu dengan daerah lain atau bahkan dengan pusat, karena beda partai pengusung, maka harus dimunculkan amandemen ke 5, supaya  ada Integrasi pembangunan, yang dulu terbukti efektif dalam bentuk GBHN.

DPD itu utusan daerah = jadi bila reses sesuai kompetensinya semestinya datang ke Bupati, datang ke DPRD, datang ke Instansi terkait, jadi tidak mengurusi angka, mengerjakan yang belum dikerjakan DPR, tidak tumpang tindih dengan DPR

Karena itu ICMI harus bergerak, dan sebagai penggerak harus dekat dengan kampus (sebagai perlambang Iptek), dekat dengan masjid (sebagai wujud Imtaq), harus dekat dengan pasar (sebagai perlambang Ekonomi), ini hukumnya bagi ICMI adalah fardu kifayah, bahkan bisa fardu ‘ain.

Karena itu kita (=ICMI), semestinya menggagas membuat gerakan berupa Yayasan Prenuer Banjar Nusantara, karena Banjar (Kalimantan Selatan) ini merupakan penyangga ekonomi Kalimantan seperti saya gambarkan di atas, kenapa Banjar Nusantara, karena urang banjar ada hampir diseluruh Indonesia, apalagi menyongsong Kalimantan Timur sebagai Ibukota baru NKRI, karena pada akhirnya yang menentukan adalah ekonomi.

Sesi Dialog

AR Malik dari Pamong Institute :

1.     Indonesia kekayaan nomor 2 di Dunia, secara geopolitik dan geografis, diapit boleh dua banua dan dua samudera, nomor empat di dunia dan Muslim tersebar, tapi 34 tahun merdeka, garis pantai terpanjang tapi impor garam, dll

2.     Sistem apa yang semestinya dipakai, karena sampai dengan sistem terakhir kayanya terbukti gagal ....

Fitriannnor, MA, dari UIN Antasari :

1.     Tantangan pertentangan Keislamannya tidak Nasionalis, yang Nasionalis tidak Islamis, ini benar2 saling bertentangan, bagaimana merawatnya ?

2.     Ekonomi dipegang non muslim dan bahkan bangsa lain, bagaimana ICMI bersuara dan memberi solusi ......

Baihaki dari LPPU Yayasan Al Ummah :

Berbenturannya Islam dengan Islam sendiri, menyikapi radikalisme, politik, ekonomi; tidak mendukung tumbuhnya Ekonomi Islam, solusi ICMI ?

Rosiyan dari Koalisi Kependudukan Kalsel :

Apa peran dan apa rekomendasi ICMI dalam menghadapi kondisi Indonesia saat ini ?

 

Tanggapan Jimly Assiddiqi

ICMI jangan tergantung dengan Ketua ICMI (=Figur), silahkan diskusi dan bahas, bebas saja namanya juga cendekiawan, karena itu silahkan kalau ada yang harus disuarakan, tapi memang harus didiskusikan supaya tidak salah langkah, gambarannya sekarang ini, seolah tidak ada kegiatan, tapi ada di media, sama juga ada keberadaannya, perlu abstraksi.

90 persen konstitusi negara di dunia ini, semuanya menyatakan negaranya sekarang adalah negara Demokrasi (kecuali Vatikan, Brunei, tidak mencantumkan demokrasi dalam konstitusinya), tapi bagaimana prakteknya tergantung masing-2, Plato yang mengkonsep Negara Republik ternyata hanya menjadi impian filsafat, tidak ada yang benar-benar secara tepat dan konsisten menerapkannya. Justru Islam yang pertama menerapkan demokrasi, dengan Piagam Madinah-nya.

Khalifatullah konsepnya adalah Manusia sebagai Hamba yang menjalankan amanah Allah di muka bumi lebih sebagai personal (masing-masing pribadi).

Khalifaturrasul dalam konsep Islam adalah kepemimpinan ummat, karena itu Umar bin Khattab menyebut kepemimpinannya adalah ‘Amirulmu’minin dan hanya karena melanjutkan dari kepemimpinan Abu Bakar Ashidiqi. Pada masa Ali bin Abi Thalib dan kemudian Ustman bin Affan, berkembangnya luasnya wilayah muslim, dan ada beberapa daerah yang rajanya beserta rakyatnya memeluk agama Islam, ada yang kemudian menyebut dan mempopulerkannya sebagai Khulafaur Rasyidin.  

Sistem ekonomi sosial dipraktekkan di Amerika, pada tahun 1960an ada ilmuan muslim melihat  prakteknya mirip mudhorobah, dibuat kajian tahun 1970an, hasilnya ternyata mereka menerapkan itu bukan karena melihat Syariat Islamnya, tapi karena sistem yang dipakai itu lebih berkeadilan.

Ekonomi Syari’ah bisa jadi Halalan, tapi belum tentu Toyyiban, gerakan nya jangan cuma normatif,  tapi harus real, Halalan Wa Toyyiban (= halal dan baik, jadi satu kesatuan, tidak terpisahkan).

Semua bisnis dan politik hanya sebagai alat dan metode dakwah, bukan untuk memperkaya diri sendiri dan keluarga, ujungnya adalah tujuan kejayaan Islam sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad dan Siti Khadijah, tanpa khadijah nabi Muhammad tidak berhasil.

Masjid dan Kampus jadi sarana, Istana tidak bisa di jauhi, karena bisa salah kebijakan, jadi harus masuk dan berperan supaya ada sumbangsih dan bisa turut mengendalikan ke arah yang benar.

Notulen : M Fithri, Wakil Sekretaris ICMI Orwil Kalsel.

Komentar

  1. Gagasan Preneur Banjar Nusantara, perlu didukung dan diwujudkan, sebagai eksistensi dan sumbangsih untuk Indonesia

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gerak Senyap Kemenag Banjar dan Menyikapi Musibah Banjir

Opini Prihatin Musibah Banjir Kalsel 2021

Agenda Tersembunyi Praktek Pernikahan Beda Agama