Pembiasaan Peradaban

 

PEMBIASAAN PERADABAN

Oleh : M. Fithri*)

Seorang guru akan bangga melihat siswanya berhasil, bahkanpun kalau itu melebihi prestasi gurunya, tapi bagaimana kalau mantan murid seolah-olah tidak mengenali gurunya?

Seorang guru suatu hari sakit dan berobat di RS, ketika menunggu antrian, melintas seorang dokter yang secara sepintas mirip mantan muridnya, si guru berdiri dan mencoba menegur tapi tidak keburu, dokter tersebut berlalu begitu saja, si guru duduk kembali, mengumpulkan ingatan iya tidak si dokter tadi bekas muridnya, beberapa saat kemudian si dokter lewat lagi, kali ini si guru menyambangi dan berhadapan langsung, dan yakin memang bekas muridnya, si guru menegur dan diiyakan oleh bekas murid tersebut, tapi si murid cuma tersenyum dan berlalu begitu saja, si guru merasa kecewa dan langsung pulang tidak jadi berobat.

Dalam kekecewaannya si guru sangat sedih, kebanggaan yang tadi sempat membuncah hilang seketika, seperti asap pupus ditiup angin, tapi masih menyisakan pedih di hati, apa yang salah? Padahal tadi hanya “sekedar bersopan santun” sebagai orang yang pernah kenal dan bersama selama tiga tahun, cuma sedikit mengenang sekedar hubungan antara seorang guru dengan seorang siswa, tidak ada niat untuk diistimewakan atau diprioritaskan dalam pelayanan, apa yang salah selama tiga tahun itu?, apa yang salah sebagai guru dan sebagai murid selama ini?

Cerita diatas tidak fiktif, adalah seorang Deni Arif Hidayat  seorang guru IPA yang baru saja diangkat menjadi kepala sekolah di SMAN 2 Serang, dari pengalaman di atas, dalam kondisi sakit terus merenung, yang mungkin adalah pertanyaan semua guru; sudahkah kita sebagai pendidik amanah dalam mendidik?, mengajari menghargai guru, dan berbakti kepada orangtua?, kejujuran?, budi pekerti luhur?, mengapa siswa sekarang ini banyak yang tawuran, terlibat narkoba, hamil diluar nikah, tidak sopan santun terhadap orangtua dan guru? seolah sudah tidak ada bekas ajaran kasih sayang, sabar, tanggungjawab, adil, memaafkan, lembut dan empati?.

Setelah sembuh dan kembali ke sekolah, berbicara dari hati ke hati dengan dewan guru, dan kemudian juga dengan siswa2, dari sini sama-2 menyadari bahwa sekolah selama ini lebih menekankan kognitif (pengetahuan) sedangkan adab akhlak budi pekerti sambil lalu saja tidak terintegrasi pada semua pelajaran, seolah hanya dibebankan kepada guru agama. Dari sinilah timbul ide, sebelum masuk ke kelas setiap pagi berkumpul dan berdo’a bersama sebelum masuk kelas, di dalam kelas waktu presensi, siswa diharuskan menyahut kehadiran ditautkan dengan satu asmaul husna beserta artinya, setiap azan dzuhur semua warga sekolah menghentikan proses belajar mengajar dan berkumpul di halaman sekolah untuk shalat berjamaah, semua, termasuk orang kantin dan satpam sekolah atau siapapun yang kebetulan saat itu berada di sekolah tersebut. Selesai shalat ditutup dengan tausiah sekitar 5 sampai dengan 10 menit  nasehat menasehati, ingat mengingatkan,  kemudian kembali ke kelas masing-masing melanjutkan proses belajar mengajar.

Pelaksanaan berkumpul dan berdo’a bersama sebelum masuk kelas, ternyata membentuk pembiasaan kebersamaan dalam kedisiplinan dan adab dalam menuntut ilmu sebagai guru yang akan mengajarkan dan sebagai siswa yang akan belajar.

Presensi menyahut kehadiran ditambah menyebut satu asmaul husna beserta artinya, membiasakan siswa mendengar dan memperhatikan nilai nilai agama, kalau ada 35 siswa di dalam kelas tersebut, maka paling tidak mereka sering mendengar 35 dari 99 asmaul husna, dan ini dilakukan terus menerus selama 3 tahun, tidakkah akan tertanam dalam memori siswa dan semua yang mendengar, nilai-nilai kebaikan dari asmaul husna tersebut?

Kemudian shalat zhuhur berjamaah,  pada awal program ini memang masih ditemukan keterpaksaan dan masalah-masalah lain, misalnya masih ada yang main-main dalam shalat, alasan lupa bawa mukena, tetapi karena di awal program sudah dikomunikasikan dengan seluruh warga sekolah sebagai program yang disepakati bersama, dan konsisten dilakukan serta berlaku untuk semua, akhirnya setelah berlangsung beberapa waktu, sudah sangat berkurang alasan-alasan di atas, kemudian malah ada usul dari siswa kenapa kita tidak membangun masjid supaya shalat berjamaah tidak kepanasan dan kehujanan?, disambut oleh Kepsek, “Usul yang sangat bagus, tapi syaratnya karena keinginan kita bersama, yang mana kita semua ingin andil semua,  kita membangun dari dana kita sendiri, maukah kamu menyisihkan uang saku seribu rupiah setiap hari untuk kita membangun masjid?” secara aklamasi disetujui oleh semua, dan ternyata tidak rata cuma seribu rupiah tapi lebih, ditambah titipan dari orangtua wali murid  yang juga ingin turut andil --karena semenjak adanya tiga program, terutama shalat berjamaah tersebut  berdampak pada perubahan siswa di rumah--, akhirnya terbangun sebuah masjid dari infak seluruh warga sekolah, tanpa bantuan dari pihak luar.

Sekarang kita bercermin kepada apa yang secara umum kita lakukan di sekolah-sekolah kita, kebanyakan sekolah kita masih secara konvensional menerapkan pembelajaran pembiasaan, kita ambil contoh disiplin hadir masuk, kita menetapkan jam tertentu dilengkapi sanksi tertentu apabila dilanggar, tetapi kelemahannya adalah tidak ada kebersamaan bagi seluruh warga sekolah, guru mungkin datang kemudian masuk kelas, selesai mengajar pulang, kelihatan berdisiplin serta tidak ada yang salah. Pembelajaran agama juga kita kebanyakan lebih berupa pengetahuan, hapalan dan praktek pada waktu tertentu saja, sangat jarang dijadikan sebagai pembiasaan dan langsung diaplikasikan, sehingga tidak sampai menjadi kebiasaan, kesadaran apalagi penghayatan.

Pembiasaan asmaul husna hanya salah satu cara, dalam penerapannya, untuk siswa yang beragama lain, maka nilai-nilai ajaran agama yang bersangkutan yang diterapkan, begitu juga dalam pelaksanaan shalat berjamaah, penganut agama melakukan ibadah secara bersama, intinya adalah pembiasaan melakukan ibadah secara bersama-sama sesuai dengan tuntunan agama masing-masing, kembali kepada ibadah Shalat wajib,  bukankah kita diperintahkan untuk shalat diawal waktu dan berjamaah?, bukankah pahalanya lebih besar dari pada shalat sendiri-sendiri?.

Khusus shalat berjamaah ini, rata-rata sekolah sudah menerapkan tetapi masih konvensional, kalau siswanya banyak dan mushalanya kecil, maka biasanya dibuatkan jadwal bergiliran, pada waktu giliran ditetapkan siswi membawa mukena, kalau berhalangan mengisi daftar yang disediakan, siswa yang tidak shalat tanpa aral yang dibenarkan akan mendapat sanksi tertentu, ini saja kadang guru harus menggerakkan dengan cara cara tertentu yang agak keras untuk mengajak shalat berjamaah, tetapi masih saja siswa dengan alasan tertentu  tidak mau melaksanakan,  mukena lupa membawa, belum mandi wajib, celana kotor, dll, disamping itu guru dan siswa kelas lain atau warga sekolah yang lain melanjutkan aktivitas masing-masing, kondisi ini mengindikasikan bahwa  pelaksanaan shalat berjama’ah hanya berlaku yang terjadwal saja, sehingga perhatian siswa terpecah pada kegiatan siswa atau warga sekolah yang lain yang tetap melanjutkan aktivitasnya, shalat berjamaah dan shalat di awal waktu jadinya menjadi program setengah hati. Dan kalau boleh jujur selama ini, kita lebih dulu membangun sarananya baru membangun manusianya, semestinya membangun manusianya baru membangun sarananya.

Program kegiatan sekolah SMAN 2 Serang tidak hanya tiga program di atas, berkembang kemudian diantaranya; MOS di ganti dengan ESQ, Kelas Jujur (= tidak ada guru pengawas ketika ujian),  Kantin jujur, Pembinaan Motivasi (= siswa yang maksimal 5 hari dalam 1 semester tidak hadir ke sekolah, akan masuk program ini), Kunjungan Empati (= terutama kepada siswa yang lamban dalam kedewasaan, kunjungan terprogram ke panti jompo, warga tertimpa bencana, pemberian bantuan dari siswa, dll), Konseling Total Action (= melibatkan keluarga dan orangtua wali murid), Pengenalan Mesin Kecerdasan, Hipnotherapy, Intensifikasi UN (=sejak kelas X), Dzikir Akbar, Prosesi Kelulusan (=menggunakan metode ESQ), Prestasi Umroh (=dari siswa untuk warga sekolah), dll, semua itu berjalan dan bertambah seiring waktu sesuai dengan keperluan dan berasal dari keinginan, inisistif dan kesadaran warga sekolah akan perlunya program tersebut, plus adanya keterlibatan dan dukungan penuh dari orangtua yang turut merasakan manfaatnya, hebatnya lagi tidak menerima bantuan dari pemerintah  semisal BOS, tapi berasal dari stake holder, yaitu siswa, guru, orangtua dan instansi atau lembaga yang bekerjasama dari mulai Ormas/LSM/lembaga pendidikan formal dan non formal, dari tingkat SD s.d. Perguruan Tinggi, sekarang ini SMAN 2 Serang menjadi rujukan, tempat studi banding, penelitian dan sekolah unggulan terutama dalam pembinaan budi pekerti siswa.

Seandainya di sekolah kita masing-masing dapat melaksanakan tiga saja dari program pembiasaan di atas, rasanya tidak muluk dan sangat mungkin kita lakukan.

Wallahu ‘alam bish shawab.

 *) Peserta Orientasi Peningkatan Kualitas Guru PAI SMA/SMK se-Kalsel  21-23 Sept 2015

 dari SMA Korpri Bjm

                 

Komentar

  1. Subhanallah sangat menginpirasi , semoga anak-anak kita maupun anak didik kita memiliki akhlak, berbakti kepada kedua orang tua, hormat kepada guru-gurunya.

    BalasHapus
  2. Terimakasih bu Hajjah Masratu S,Ag, tantangan kita selaku guru dan orangtua makin berat, sehingga perlu cara baru sesuai zaman dan kondisinya, sepertinya kita yang harus mengkondisikan dan harus dengan lain lagi dibanding yang kita terima dan rasakan yang dilakukan orangtua dan guru-guru kita

    BalasHapus
  3. Semoga ada sekolah yg bisa menerapkan, dimulai dari rumah sebagai sekolah pertama bagi anak kita, karena pada hakikatnya orangtua lah yg semestinya menjadi guru utama anak kita

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gerak Senyap Kemenag Banjar dan Menyikapi Musibah Banjir

Opini Prihatin Musibah Banjir Kalsel 2021

Agenda Tersembunyi Praktek Pernikahan Beda Agama