MTQ dan Kesalehan Karakter

 


MTQ dan Kesalehan Karakter

Oleh : M Fithri, S.Ag

Nayla baru selesai tahfiz 1 juz dan tilawah pada MTQ ke 40 di Kec Simpang Empat Kab Banjar, gadis cilik kelas III SD itu disongsong kakaknya  Muhammad Rizky  yang juga akan mengikuti lomba yang sama tapi tahfiz 5 juz dan tilawah, mata berbinar gadis cilik itu menunjukkan keriangan hatinya, berbeda ketika belum maju tadi, sedikit tegang dan berkali-kali disabarkan dan dibimbing kakaknya menjaga bacaan hapalan, sambil menyimak tilawah, sesaat kemudian dari dalam tas keluar snack dan minuman, dan dengan santai Nayla kelihatan begitu menikmatinya.

Ahmad seorang bocah laki-laki keluar dari tempat lomba, matanya deras mengalir air mata, berkali-kali sang bunda mengusap kepala dan memeluk berbisik menenangkan, “nak kamu sudah melakukan yang terbaik yang kamu bisa, mama tetap bangga, belum bisa menjawab tadi, tidak apa-apa, lain kali kamu Insya Allah bisa” si bocah masih sesunggukan, kelihatan sangat sedih, karena tadi dia tidak bisa menyambung beberapa hapalan tilawah yang diajukan juri.

Pemandangan seperti di atas, biasanya kita jumpai pada perhelatan MTQ, terutama golongan anak-anak dan remaja. Bagi official, pendamping, panitia, orangtua peserta, dewan juri, merupakan pemandangan biasa, tapi bagi “orang luar” merupakan “sesuatu yang lain”  apalagi misalnya membandingkan dengan anak-anak pada umumnya pada lomba lain (= lomba nyanyi, bakat, olah raga)  atau mengamati anak-anak dilingkungan kita.   

Anak anak kita umumnya, gembira dan berbinar apabila keinginan yang diinginkannya terpenuhi, anak anak kita umumnya akan menangis dan mengamuk apabila keinginannya tidak terpenuhi, tapi umumnya bukan tentang bisa membaca al Qur’an, atau karena lomba MTQ.

Ketika di pondokan kafilah, kita bisa lebih jauh melihat keseharian mereka, dari bangun tidur, ke WC/Mandi, berpakaian, bercermin, makan minum, secara “otomatis” do’a dan adab melakukannya mengalir begitu saja, shalat dhuha, shalat malam, shalat wajib berjamaah diawal waktu, adab akhlak terhadap orang yang lebih tua, membimbing dan menyayang yang lebih muda, tutur kata santun kepada siapapun, dan mereka juga tidak asing dengan apa yang dipunyai dan keinginan sebaya mereke seperti smartphone, headset dan internet, bedanya adalah gadget tersebut terfilter oleh mereka sendiri dari pengunaan ke hal yang negatif, tambahan yang membedakan adalah,  isinya kebanyakan tentang al Qur’an dan membawa al Qur’an kecil ke mana-mana, sambil duduk santai mereka asik dengan hapalannya atau menyimak hasil rekaman.  Pada waktu-waktu senggang tertentu mereka silih berganti saling kunjung mengunjungi bersilaturahmi antar kafilah, mereka bergaul dalam suasana akrab dan persaudaraan, kadang berdiskusi dan memberi masukan terhadap penampilan antar mereka, padahal mereka sedang bersaing dan sedang berlomba.

Tidak mungkin rasanya keseharian yang mereka lakukan diatas misalnya hanya pada waktu kegiatan MTQ saja, karena jelas terlihat tidak ada keterpaksaan atau di buat-buat, bocah-bocah itu di waktu luangnya di pondokan kafilah, terlihat seperti umumnya anak-anak, akan halnya seperti Nayla, asik bercanda, bermain, berlari-larian, berceloteh ramai dengan sebayanya atau anak yang lebih kecil, padahal mereka baru beberapa saat yang lalu ketemu dan kenal. Mereka sama sekali tidak kehilangan dunia masa kecil, masa bermain dan keriangan. 

Mungkin sebagian kita menganggap perhelatan MTQ, STQ, atau Festival Anak Saleh, adalah perhelatan rutin tahunan, lumrah dan biasa-biasa saja, kita mungkin tidak menganggap penting ada rangkaian kegiatan yang terstruktur, telaten, dan membutuhkan ketekunan, kesabaran, dan keteladanan. Anak yang tampil dipentas lomba, sudah melalui proses  tahapan yang panjang, tidak hanya diri yang bersangkutan, ada pelatih, ada ustadz, ada dukungan orangtua, sedangkan hasil dari lomba adalah konsekuensi logis saja dari semua itu, apapun hasilnya, menang ataupun kalah tidak menjadi soal, karena tujuan akhir bukan itu.  

Selain Pemerintah terutama melalui Kemenag, Diknas dan BKKBN, hampir semua Ormas Islam seperti LPTQ, ICMI, MUI, NU, Muhammadiyah, BKPRMI, dll, maupun yang bercorak nasionalis, seperti Koalisi Pendudukan, Korps Guru seperti IGI, PGRI, dll, punya kepedulian dan program kegiatan positif yang bisa disinergikan dari sudut pandang dan cara masing-masing, yang semuanya bermuara kepada menyelamatkan generasi muda, anak-anak bangsa, agar tidak terjerumus kepada terutama pergaulan bebas dan narkoba. Sehingga menurut Drs H Miftahuddin (Sekretaris LPTQ Kab Banjar), efektifitas program satu lembaga bisa bersinergi dengan pemerintah kecamatan, desa, maupun lembaga-lembaga lain, misalnya program MTQ per Kecamatan melalui pembentukan LPTQ sampai ke tingkat desa, rumah tahfizh, serta peranan penyuluh fungsional, bisa dipadupadankan dengan lembaga-lembaga tersebut, guna tepatnya penggunaan anggaran dan sasaran pembinaan.   

Nayla yang lincah riang ria dan Ahmad bocah lelaki yang berurai air mata tersebut memang ternyata tidak juara, juara harapan sekalipun, tetapi mereka tetap juara di bidang yang semestinya diinginkan semua orang Islam, orangtua muslim, keluarga muslim, yaitu --anak-anak yang Insya Allah-- adalah anak-anak yang saleh dan salehah.

Wallahu’alam bish shawab.

*) PAI KUA Kec.Sungai Tabuk Kemenag Kab.Banjar

Ketua UPZ KUA Sungai Tabuk

Pengurus LPTQ Kecamatan Sungai Tabuk

Pengurus MUI Kecamatan Sungai Tabuk

Wakil Sekretaris 1 Koalisi Kependudukan Kalsel

Wakil Sekretaris ICMI Orwil Kalsel

Pokja BumdesBMT PINBUK Kalsel

Wakil Sekretaris Wilayah IGI Kalsel

 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gerak Senyap Kemenag Banjar dan Menyikapi Musibah Banjir

Opini Prihatin Musibah Banjir Kalsel 2021

Agenda Tersembunyi Praktek Pernikahan Beda Agama