Ikhtiar Bersama Pencegahan dan Penanggulangan Wabah Covid 19 (Bagian 2)

Ikhtiar Bersama Pencegahan Dan Penanggulangan Wabah Covid 19 (Bagian 2)

Oleh : M. Fithri, S.Ag

(Penyuluh Agama Islam Kemenag Kab. Banjar, KUA Kec. Sungai Tabuk)

Nuansa Ramadhan Radio Swara Banjar 100,4 FM, 22 Ramadhan 1441 H/15 Mei 2020 M

Kerja Sama Kementerian Agama Kab Banjar dengan Kemeninfokom Kab Banjar

 

Kerabat Dengar Radio Swara Banjar Rahimakumullah,

Menarik membaca postingan di media sosial, yang menarasikan mengenai  "Kematian Sang Milyarder Antonio Viera Monteiro (Presdir Santander Bank Portugal)" akibat terinfeksi Covid 19 baru-baru ini, yang sempat viral di medsos.

Cerita singkatnya begini ...Anaknya Sang Milyarder mengungkapkan "rintihannya"..."rasa penasarannya"... bahkan "rasa penyesalannya"... bahwa ternyata harta yang melimpah, yang dimiliki ayahnya yang berlimpah ruah itu, tidak bisa berbuat apa2 untuk menyelamatkan nyawa ayahnya, yang tengah kekurangan oksigen dalam menghadapi gangguan pernapasan.  Ayahnya sulit bernapas, udara segar tidak bisa masuk ke paru2nya. Sudah  memakai  alat canggih terbaik yang ada, dengan harga yang paling mahal, karena dia mampu membayarnya, tetapi alat itu tidak  mampu menolong ayahnya, sehingga ayahnya pun meninggal dunia.  

Anak sang Milyader ini pun merenung, sesungguhnya untuk apa  harta yang ditimbun selama ini, hasil kerja keras, susah payah mengumpulkannya, tapi tidak mampu dan berguna untuk "menolong" kelangsungan hidup ayahnya.

Kejadian matinya Sang Milyader terkena Covid 19 tersebut menjadi pembelajaran/i’tibar bagi kita manusia yang masih diberi nikmat hidup, adalah sebuah peringatan bagi orang2 yang berakal dan mau berpikir, bahwa ada yang lebih berkuasa segala-galanya, yang menentukkan hidup dan matinya seseorang, dan tiada siapapun atau apapun yang bisa menolong, tidak bisa kekayaan yang berlimpah,  dan tidak bisa pengaruh jabatan kekuasaan.

Kerabat Dengar Radio Swara Banjar Rahimakumullah,

Ada persepsi keliru  dan penting  diluruskan terkait dengan wabah Covid 19 akhir-akhir ini.

Tidak sedikit diantara masyarakat yang menganggap, bahwa mereka yang positif Covid 19, atau bahkan wafat karena virus Corona ini, sebagai sesuatu yang tidak baik, hina, dan mendapat azab.

Seolah siapapun yang terpapar Covid 19, adalah mereka hina dan mendapat azab dari Allah yang ditimpakan kepada mereka, sehingga ada di beberapa daerah yang menolak jenazah terinveksi Covid 19, dimakamkan di kampung mereka. Padahal jenazah tersebut, sudah dipulasara sesuai standar medis protokol kesehatan, dan yang muslim sudah diselenggarakan jenazahnya, dimandikan/ditayamumkan, dikafani,  dishalatkan, dan dikuburkan, sesuai syari’at Islam, yang pedoman pengurusannya berdasarkan fatwa MUI, yaitu Fatwa MUI No.18 tahun 2020, tentang Pedoman Pengurusan Jenazah Muslim Yang Terinveksi Covid 19.

Kerabat Dengar Radio Swara Banjar Rahimakumullah,

Tercatat dalam Sejarah dunia, penyakit menular telah terjadi sedikitnya tiga kali pandemic wabah mematikan; Pertama, wabah Yustinianus (plague of Yustinianus) 541-542 M; Kedua, wabah Maut Hitam (Black Death Plaque) 1347-1351 M ; Ketiga, wabah Bombay (Bombay Plague) 1896-1897 M.

Pandemic Black Death diabad ke 6 tersebut, terkait dengan kematian kurang lebih 25.000 sahabat Nabi.

Eropa pun pernah kelam, akibat sikap fanatik sebagian umat beragama, menyikapi Pandemic Black Death. Saat itu, otoritas Eropa kehabisan cara dalam mengatasi wabah, masyarakat luaspun akhirnya putus asa.

Bahkan mereka mengaitkan umat Yahudi sebagai penyebab datangnya wabah itu, sehingga Tuhan murka, dengan memberi adzab kepada mereka, yang berdampak luas terhadap yang lainnya. Konflik sesama umat manusia tak bisa dihindari, dan ribuan Yahudi pun akhirnya dipersekusi.

Sebagian besar sarjana Muslim abad pertengahan, mengalami wabah/tho'un yang mematikan itu. Bahkan, Ibn Hajar al 'Asqalani (wafat 449 H) sampai kehilangan  tiga putrinya akibat tha'un. Yaitu Fatimah, 'Aliyah dan Zin Khatun, si sulung yang sedang hamil.  Apa yang beliau lakukan?  beliau akhirnya menulis karya ilmiah, untuk menjaga nyawa sesama umat manusia. Yang beliau beri judul "Badzl al Maun Fi Fadhl al Tha'un" ( = Perjuangan Keras dalam Mengatasi Wabah).  Karya Ilmiah ini menjadi salah satu sumbangsih cendekiawan muslim kepada dunia, untuk menyelamatkan sesama ummat manusia dari wabah pandemic. 

Karya Ilmiah ini telah di tahqiq/validasi, oleh Ahmad Ishom Abd al Qadir al-Khatib, yang mengulas detil bab tentang tha'un (wabah). Ia menjelaskan definisi tentang wabah secara metafisis dan medis, mulai dari jenisnya, termasuk Pandemic Black Death di Eropa, pandangan ahli medis, cara menghindarinya, hukum syahid bagi korban, sampai pada bagaimana seseorang muslim harus menyikapi wabah.

Begitupun Al 'Asqalani, bukanlah satu satunya dari kalangan ulama besar yang terdampak tha'un/wabah pandemic.  Abu Aswad Al Dawali (wafat 688 H), penggagas ilmu nahwu terkemuka, wafat akibat tha'un.

Inilah bukti bahwa wabah pandemic tidak mengenal ras, usia, gender, dan kelas sosial.

Untuk itu marilah kita berdoa bersama sama, semoga Allah memberikan yang terbaik untuk kita semua. Yang terbaik menurut Allah. Aamiin yaa Mujibbasailiin

'Aisyah radhiallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang wabah (tha’un) :

‘An ‘a Isyata, annaha koolat : Saaltu Rasulullah SAW, ‘Anit thoo’uuni ?, Fa Akhbaraniy Rasulullah SAW : Annahu Kaana ‘azhaabay yab’atsu hulllahu ‘ala marrajuliy yaqo’ut thoo’uunu, fayamkutsu fii baitihi shoobiram muhtasibay ya’lamu annahu laa yushibuhu illa maa kata ballahu lahu, illa kaana lahu, mitslu ajris syahiid.

“Dari Siti Aisyah RA, ia berkata ‘aku bertanya kepada Rasulullah SAW perihal tha’un, lalu Rasulullah SAW memberitahukanku, ‘Dahulu, tha’un adalah azab, yang Allah kirimkan kepada siapa saja yang Dia kehendaki, tetapi Allah menjadikannya sebagai rahmat bagi orang beriman. Maka tiada seorang pun yang tertimpa tha’un, kemudian ia menahan diri di rumah dengan sabar serta mengharapkan ridha-Nya, seraya menyadari bahwa tha’un tidak akan menimpanya selain telah menjadi ketentuan Allah untuknya, niscaya ia akan memperoleh ganjaran seperti pahala orang yang mati syahid” (HR Bukhari, Nasa’i dan Ahmad).

Seorang mukmin, jika ia berikhtiar melakukan upaya-upaya mencegah menghindari wabah penyakit, namun ternyata ia terkena juga. lalu ia Bersabar, Muhasabah, Istighfar dan bertobat kepada Allah, serta sadar diri bahwa Itu adalah qadha dari Allah SWT, kemudian dia wafat, Insya Allah, ia meninggal mendapat pahala orang yang mati syahid.  

Kerabat Dengar Radio Swara Banjar Rahimakumullah,

Dengan demikian, dari yang telah kami sampaikan, dapat kita ambil beberapa kesimpulan :

1.     Bahwa Protokol Kesehatan dengan cara Sosial Distancing/Lockdown/Karantina,atau PSBB, adalah ajaran Islam yang telah di lakukan oleh Amru bin Ash, Gubernur Syam, dengan berdasarkan Sabda Nabi Muhammad SAW hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid, dan pertanyaan Aisyah serta jawaban Nabi Muhammad SAW tentang Penyakit Tha’un, Hadits Riwayat Bukhari, Nasa’i dan Ahmad, yang telah disampaikan pada uraian diatas.

2.      Bahwa dalam hal ikhtiar untuk pencegahan dan penanggulangan wabah penyakit, kita sebagai muslim, “sami’na wa ato’na” (kami mendengar dan kami taat) terhadap upaya-upaya yang dilakukkan Pemerintah/Pemimpin kita, sebagai bentuk ketaatan kita sebagai kaum muslimin yang beriman, ‘Atiullah wa ‘Atiurrasul wa ‘Ulil amri minkum (Taatilah Allah dan taatilah Rasul dan Pemimpin diantara kamu)

3.     Ketaatan/Disiplin dan ikhtiar-ikhtiar yang kita lakukan di atas, merupakan salah satu bentuk Ibadah kita kepada Allah SWT dan Insya Allah tergolong Jihad fi Sabilillah, karenanya dalam peperangan melawan wabah ini, kalaupun kita ditaqdirkan gugur, Insya Allah mendapat pahala Syahid, masuk syurga tanpa hisab.  

Kerabat Dengar Radio Swara Banjar Rahimakumullah,

Demikian yang bisa kami sampaikan, semoga ada manfaatnya, dan kita dapat melaksanakannya. Untuk itu marilah kita berdoa bersama sama, semoga Allah memberikan yang terbaik untuk kita semua, Yang terbaik menurut Allah.  Rabbana zolamna ampusana wa illam tagfirlana, latarhamna lanakunannaminal khosirin, Robbana aatina fiddunya hasanah, wafil akhiroti hasanah, waqina ajaa bannaar. Aamiin yaa Mujibbasailiin

Lebih dan kurangnya mohon dimaafkan, yang benar, datangnya dari Allah SWT Yang Maha Benar, dan yang salah, khilaf, atau keliru,  datangnya dari kami pribadi sebagai manusia biasa yang tidak pernah luput dari salah, khilaf dan dosa.

Akhirul kalam, subhanakallahu maa wabihamdik, asyhadu allaa ilaaha anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik. 

Wallahul muwaffiq ila aqwamit thaaryq.  

Wallahu ‘alam bis shawab.

 

Summasassalamu ‘alaikum warohmatullahi wabarokaatuh.

Sungai Tabuk, 15 Mei 2020 M,

ASN Penyuluh Agama Islam Kemenag RI

Wakil Sekretaris ICMI Orwil Kalimantan Selatan

Pengurus Wilayah IGI Kalimantan Selatan

Wakil Sekretaris Koalisi Kependudukan Kalimantan Selatan

emfith3@gmail.com, mfithri1968@gmail.com

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gerak Senyap Kemenag Banjar dan Menyikapi Musibah Banjir

Opini Prihatin Musibah Banjir Kalsel 2021

Agenda Tersembunyi Praktek Pernikahan Beda Agama