Mengenali Faham Radikalisme

MENGENALI FAHAM RADIKALISME 
(Catatan dari Seminar Forum Cendekia ICMI Kalsel: "ISIS dan Ancaman terhadap Ummat dan NKRI", 30 April 2015, Narsum : Prof Dr H A Hafiz Anshari, MA)

Oleh : M Fithri, S.Ag*) 

    Sekarang ini kalau kita bicara tentang Radikalisme, orang lalu mengkaitkan dengan Terorisme dan ISIS, padahal sebenarnya banyak aktifitas lainnya yang mengarah pada radikalisme. Dan berbicara tentang ISIS, padahal bukan ISIS (= Islamic of State Irak and Suriah) lagi, tapi IS saja yaitu Islamic of State = Negara Islam, ISIS Ini menjadi isu internasional, ISIS merupakan gerakan revolusioner yang memahami Islam dengan pemahamannya sendiri, dia memahami bahwa Islam adalah agama yang bersifat universal dan harus memiliki negara, tidak ada kebangsaan disitu, yang ada hanya dua, yaitu Darul Islam dan Darul Kufr, negara Islam dan negara Kafir, diluar dari negara Islam adalah negara Kafir, tidak mengenal batas wilayah, seluruh dunia adalah wilayahnya dimana ada orang Islam dan berbaiat kepada mereka, dan orang Islam harus ikut berhijrah, karena kalau tidak termasuk, mereka golongkan Darul Kufr. Faham mereka ini termasuk faham yang radikal. 
    Ada tiga Faham Islam menurut para ahli, yang pertama Faham Islam Radikal yaitu faham yang sangat keras untuk mencapai tujuan dengan cara revolusioner. Yang kedua adalah Faham Islam Moderat = melakukan perubahan secara bertahap dengan cara evolusi. Yang ketiga adalah Faham Islam Liberal = bebas memandang sama semua orang, memandang agama sama secara universal, tidak ada perbedaan, bahkan antar agama dianggap sama. Pandangan Islam dalam hubungannya dengan Negara, terbagi 3 = yang pertama ada kelompok yang memandang bahwa antara agama dan negara tidak bisa terpisahkan, Nabi Muhammad sebagai Kepala Negara dan sebagai Rasul, mempunyai dua otoritas, yaitu otoritas politik sebagai Kepala Negara dan otoritas Agama sebagai Pemimpin Agama, mereka berpandangan di dalam Islam sudah di atur secara lengkap = kaffah, yang tidak hanya kaffah secara pribadi sebagai seorang muslim, tetapi juga termasuk dalam soal bernegara, sistem pemerintahan, sistem politik, itu semua sudah ada dalam Islam, mereka mengklaim, tidak perlu mencari sistem yang lain, tidak perlu meniru negara lain, karena di dalam Islam sudah diatur secara lengkap/kaffah secara totalitas, faham inilah yang dianut oleh Ikhwannul Muslimin di Mesir, tokoh utamanya Hasan Al Bana, Sayid Khuttub, Mustafa, termasuk Abu A‘a la Al Maududi, kalau melihat konsep ini, ISIS juga berfaham yang sama dengan Faham ini. 
Yang kedua berpendapat bahwa Islam tidak ada hubungan dengan Negara, dan nabi Muhammad bukan kepala negara, karenanya Islam tidak mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara, kita bebas memilih model apa saja di dunia ini, apakah Republik, monarkhi, apa saja silahkan, bebas memilih sesuai kebutuhan negara yang bersangkutan, karena Nabi seorang Rasul yang terlepas dari urusan politik, karena berpendapat bahwa politik itu kotor, Nabi itu ma’sum dan nabi tidak mungkin terlibat dalam urusan yang kotor, sehingga Nabi tidak mungkin berpolitik, faham ini melahirkan faham Islam yang liberal. Yang ketiga faham yang sangat longgar, bahwa Islam tidak berkaitan langsung dengan Negara, tetapi Islam tidak pernah dilepaskan dari urusan kenegaraan, Islam tidak mengatur bagaimana negara dan kehidupan bernegara, tetapi Islam memberikan nilai-nilai dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, boleh memakai model apapun, asal tidak bertentangan dengan norma-norma keIslaman. Faham ini yang menjembatani dua faham di atas. Secara makna kata, jihad berasal dari kata “Jahada (fil amri)” yang berarti “bersungguh sungguh (lelah) menjalankan perintah”, dan “Jihaadun” artinya “perjuangan dalam membela agama”.(S.Askar, Kamus Arab Indonesia Al Azhar).  
    Di dalam Alquran terdapat banyak ayat yang berbicara tentang jihad. Ayat-ayat tentang jihad dapat dibedakan ke dalam dua macam. 
Pertama, bersifat informasi tentang jihad, yaitu informasi tentang keutamaan-keutamaan berjihad. 
Kedua, bersifat perintah yakni memerintahkan kepada Nabi dan kaum muslimin untuk berjihad. Ayat yang memberi informasi tentang jihad cukup banyak, di antaranya: surah Al-Baqarah ayat 218 Allah berfirman: 218. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Surah An-Nisa ayat 95: 95. Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai 'uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar. 
Dalam surat As-Shaaf ayat 10-12 Allah berfirman: 10. Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? 11. (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. 12. niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah 'Adn. Itulah kemenangan yang agung. 
Sedangkan ayat-ayat yang memerintahkan untuk berjihad antara lain: surah Al-Hajj ayat 78: 78. dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan Jihad yang sebenar-benarnya. Surah At-Taubah ayat 41: 41. Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Surah At-Taubah ayat 73: 73. Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah Jahannam. dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya. Ayat-ayat di atas menjadi landasan dan dasar yang kuat untuk berjihad di jalan Allah. 
    Dan dapat digolongkan asfek jihad sebagai berikut : 1. Berjihad yang diperintahkan adalah berjihad di jalan Allah; 2. Berjihad haruslah dengan sebenar-benar jihad; 3. Terdapat dua macam cara berjihad; yaitu berjihad dengan harta dan berjihad dengan jiwa raga; 4. Berjihad dalam bentuk perang. 
Pertama, berjihad di jalan Allah berarti berjuang dalam menegakkan keadilan dan meninggikan kalimat Allah. Maksudnya berjuang dengan mengerahkan dan mencurahkan kemampuan dengan upaya maksimal dalam menegakkan keadilan dan membela agama Allah. 
Kedua, berjihad dengan sebenar-benarnya ialah berjihad di jalan Allah dengan benar, dengan harta, dengan lisan, dengan jiwa raga, ikhlas semata-mata karena Allah. 
Ketiga, berjihad dengan harta dan jiwa raga yaitu melakukan keduanya secara sekaligus bagi mereka yang memiliki kemampuan. Untuk ketiga kategori di atas yang dimaksud jihad disini adalah sangat luas, misalnya Pemimpin memimpin dengan amanah, Hakim memutus perkara dengan adil, Pedagang berdagang dengan jujur, Guru mengajar dengan tawadhu, Murid belajar dengan sungguh-sungguh, inilah bentuk-bentuk jihad sesuai profesi masing-masing. 
Keempat, berjihad dalam bentuk perang secara fisik. Berjihad dalam bentuk perang memang diperintahkan. Dalam sejarah tercatat bahwa Nabi dan kaum muslimin pernah beberapa kali melakukan perang, diantara ada perang yang besar (Badar, Uhud, Ahzab, Mut’ah, perang menaklukan kota Mekah, dan perang Tabuk). Perang kecil (Yahudi Bani Nadhir, Khaibar). Semua bentuk perang itu dilakukan oleh Nabi dan para sahabatnya sebagai jalan terakhir, yakni jika cara lain dan jalan damai tidak berhasil ditempuh. Karena itu, melakukan perang harus ada alasan dan latar belakangnya, ada tujuannya, serta jelas sasarannya. Melakukan perang baru diizinkan bila dalam keadaan dizalimi, dianiaya, ditindas, dan dirampas kemerdekaan. Perang diperintahkan bila orang lain memerangi atau telah nyata bersiap untuk memerangi, Dua hal ini dipahami dari Alquran surah Al-Hajj ayat 39 39. Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu. 190. dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Ayat ini berisi perintah kepada Nabi dan kaum muslimin untuk berperang di jalan Allah terhadap orang-orang yang memerangi Nabi dan kaum muslimin. Meskipun ayat ini memerintahkan perang, namun perang di jalan Allah dan tidak melampaui batas. Tidak melampaui batas maksudnya tidak memerangi atau membunuh anak-anak, kaum wanita, laki-laki yang tidak memiliki kemampuan berperang seperti orang jompo dan cacat, orang yang tidak merusak tempat ibadah, orang yang tidak menebang pohon-pohon dan membunuh binatang. 
    Yang menjadi persoalan pokok adalah memahami ayat dalam alqur’an : Hendaklah dalam satu ummat yang mengajak kepada Khair = kebaikan, dan menyuruh orang berbuat Ma’ruf = kebaikan, dan mencegah berbuat Munkar = kejelekan. Sebagian orang memaknai al Khair ini kebaikan yang universal yang tidak lekang oleh panas dan tidak lapuk karena hujan, tidak berubah oleh zaman maupun tempat, nilai tersebut sampai kiamat tidak berubah, sedang Ma’ruf adalah nilai yang situasional dan kondisional, bisa berubah karena perubahan zaman, bisa berubah karena tempat, sehingga bisa terjadi perbedaan antara daerah yang satu dengan daerah yang lain, atau antara zaman yang satu dengan zaman yang lain, tergantung masyarakat setempat, Ma’ruf = yang dikenal, dari kata arafa, dulu di Indonesia, dimasa-masa sebelum kemerdekaan sampai awal-awal kemerdekaan, kalau orang pakai dasi atau pakai topi pet, hukumnya haram, karena pakaiannya orang belanda, mereka berdalil berdasarkan hadits Nabi “man tasabbaha bikaumin pahua minhum” = barangsiapa menyurupai suatu kaum maka dia termasuk ke dalam golongan kaum itu, karenanya dianggap mengikuti Belanda, maka orang itu dianggap kafir. Berarti dia dianggap Munkar, berbeda dengan sekarang, dasi atau pet pakaian Internasional, zaman sekarang banyak saja ulama yang pakai dasi atau pet dan tidak lagi dihukumkan haram, ini terjadi karena pemahaman yang berbeda antara yang dulu dan sekarang. 
    Tetapi ISIS memahaminya antara khair dan ma’ruf tidak ada nilai yang berubah sama sekali. Patut dipahami pemahaman tentang nilai-nilai al Khair memang tidak berubah, misalnya perintah berbuat baik kepada orangtua, kapanpun, dimanapun tidak berubah, sejak Nabi Adam sampai dengan hari kiamat tidak akan berubah, tetapi pelaksanaannya bisa berubah sesuai kondisi dan situasi serta zaman inilah disebut Ma’ruf. 
    Sedangkan ISIS sangat kaku dalam memahami itu, tidak bisa berasimilasi dengan budaya masyarakat setempat, akibatnya adalah kekerasan yang muncul. Tujuan utama ISIS adalah ingin membentuk Negara Islam Salafi, kembali kepada 14 abad yang silam pada zaman Nabi dan Khulafaur Rasyidin, kalau begitu sasarannya siapa? Sasaran utamanya cuma dua, yang pertama kaum Syiah, karenanya mereka menggempur Syiria, karena Assad dianggap tokoh syiah, yang harus dia perangi, yang kedua orang Kristen, tetapi anehnya tidak memasukkan Yahudi didalamnya, sehingga ada yang menduga dan menjadi kecurigaan berbagai pihak, bahwa patut dicurigai bahwa bahwa ISIS itu dibentuk dan didalangi oleh orang Yahudi, konon yang membiayai Amerika, dilakukan mereka untuk mudah mengontrol, mereka kampanyekan lalu kaum yang berfaham Islam radikal berkumpul di ISIS, terlokalisir di suatu wilayah, kaum muslim yang menentang ISIS juga berkumpul memerangi ISIS, dibiayai, diberi senjata, bom dan sebagainya, berperang antar kaum muslimin sendiri, tujuannya diadu domba dan terlokalisasi sehingga mudah dikendalikan, tapi ini baru kecurigaan, kita belum punya data, belum punya bukti, dan informasi yang akurat tentang kebenarannya. 
    Yang pasti sekarang ISIS sudah berkembang sangat pesat, tentara profesionalnya 25.000 lebih, tidak hanya Irak dan Syiria, tetapi seluruh dunia, orang harus tunduk kepada Khalifah Abu Bakar Al Baghdadi sebagai Khalifah. Pertanyaan berikutnya adalah, kenapa harus syiah yang jadi sasarannya?, kalau boleh disebut berdasarkan sejarah adalah karena “permusuhan permanen”, antara suni dan syiah, sepanjang sejarah tidak pernah berhenti bermusuhan, maka lahirnya ISIS dalam rangka menumpas Syiah, tetapi yang aneh sunni pun banyak dibantai mereka, ini karena doktrin mereka sekarang berubah, kalau dulu yang dianggap musuh hanya kristen dan syiah, tetapi sekarang siapa saja yang tidak setuju dan tidak bergabung dengan mereka, maka digolongkan sebagai musuh, orang suni sekalipun. 
    Apakah faham ISIS seperti ini pernah muncul di dalam Islam? Jawabannya ya dan contohnya sangat banyak, Berkembangnya sejak zaman khulafaurrasyidin, dimulai perpecahan dalam dunia Islam karena politik, mulai dibunuhnya Usman bin Affan, siapa yang membunuh? Jawabannya orang muslim sendiri, seorang khalifah yang wara tawadhu dibunuh dirumahnya sendiri oleh orang Islam sendiri, diangkatnya Khalifah Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah berimplikasi peperangan terus menerus, karena ada yang mengakui, ada yang menentang, dan juga adanya kelompok yang menuntut khalifah segera menuntaskan masalah pembunuhan Ustman, tetapi Ali berpendapat stabilkan situasi dulu baru mengusut, tetapi sikap ini dinilai tidak tegas, kelemahan dan kelalaian, sehingga terjadilah perang jamal/unta, siapa yang jadi musuh utamanya? Adalah Aisyah, Zubair bin Awwam, Talhah sebagai pemimpin pasukan yang meminta Ali bin Abi Thalib mendesak untuk segera mencari siapa pembunuh Ustman bin Affan, dan harus diadili untuk tegaknya keadilan. Dalam situasi politik tidak menentu itu, Ali bin Abi Thalib dianggap keterlambatan adalah kelalaian, mereka dipaksa untuk segera mencari pembunuh itu, mereka mengangkat senjata, alasannya untuk membela kebenaran, Ali bin Abi Thalib sebagai Khalifah yang sah dan legal, ada yang mengangkat senjata dianggap memberontak maka harus diperangi, terjadilah perang Jamal, terbunuhlah Zubair, Aisyah tertangkap tapi dikembalikan ke Madinah, kenapa Zubair mau berperang, kenapa Ali mau berperang, karena memahami wajib menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, maka mulailah faham faham yang keras yang radikal mulai muncul, makanya ahlul sunnah al jamaah diajarkan jangan berpihak kepada siapapun, karena sudah menjadi ranah politik, Ali berpendapat stabilkan politik kita dulu, baru diproses siapa pembunuhnya, tetapi sikap ini dianggap lalai seorang pemimpin dalam menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.        Perang shiffin, ini perang antara Ali sebagai Khalifah di sebuah desa antara madinah dan syam/syiria, Ali sudah hampir menang, tetapi dipihak lawan ada seorang ahli politik bernama Amr bin Ash, mereka memerintahkan pasukannya menganggat al qur’an sebanyak tiga ratus al qur’an diletakkan di tombak, dan mereka mengatakan mari kita berdamai berdasarkan al qur’an, sebagian pengikut Ali meminta kepada Ali untuk berdamai, Ali mengatakan tidak, itu tipu muslihat mereka, mereka melakukan itu karena mereka sudah hampir kalah dalam pertempuran itu, lanjutkan peperangan, tetapi para hafiz qur’an meminta hormatilah al qur’an mari kita berdamai, maka terjadilah perdamaian yang disebut tahkim, arbitrase, tetapi dalam tahkim itu pihak Ali bin abi Thalib mengalami kekalahan diplomatis, Ali mengutus Abu Musya Al Asyari orang yang sudah tua orang sufi yang tidak faham politik. Sedangkan Muawiyah mengutus Amr bin Ash seorang ahli politik dan jendral perang hebat, tercapai kesepakatan berdamai untuk kesatuan ummat, salah satu kesepakatannya adalah pemilihan Khalifah ulang, --karena sebab terjadinya peperangan adalah Muawiyah tidak mengakui Ali sebagai khalifah dan Ali memecat Muawiyah sebagai gubernur---, untuk memilih khalifah maka khalifah yang ada di makzulkan dulu, Abu Musa al As Asyari tidak curiga dan menyampaikan ke pasukan bahwa berdasarkan hasil perundingan untuk memilih khalifah yang baru Ali diturunkan. Pada saat itulah, setelah Abu Musa Al Asyari turun mimbar, kemudian Amr bin Ash naik mimbar dan berpidato bahwa kami menyambut dan menerima pemakzulan Ali, berarti kekhalifahan kosong, oleh karena itu mengangkat Muawiyah sebagai khalifah, hadirin dikondisikan mendukung setuju, lalu serempak orang mengucap setuju, Ali di telikung, ummat Islam terbelah, sebagian pengikut Ali tetap mengakui Ali sebagai Khalifah, sebagian yang lain menganggap Ali tidak lagi sebagai khalifah, maka terjadi dua ke Khalifahan. 
    Kejadian di atas menyebabkan sebagian kelompok Ali sangat kecewa lalu memisahkan diri, kurang lebih sekitar 12.000 orang, mereka tidak cuma sekedar keluar tapi memusuhi, sehingga Ali berperang dengan bekas anak buahnya sendiri, ditambah dengan memerangi Muawiyah, mereka yang keluar ini disebut kharaj, atau khawarij, dari sinilah kemudian munculnya kaum khawarij, mereka memegang teguh surah Al Maidah dan menafsirkannya secara kaku, barang siapa menghukumkan bukan dengan al qur’an maka kafir, tahkim di atas mereka anggap bukanlah cara mentahkimkan dalam al qur’an, muncullah faham radikal, siapapun yang islam yang tidak mentahkimkan ke Islam berarti berdosa besar, berarti Ali, Muawiyah, Abu Musya Al As’ari, Amr bin Ash adalah kafir, orang yang berdosa besar berarti adalah kafir, kafir adalah halal darahnya, lalu diaturlah pembunuhan terhadap 4 orang ini, Ali kemudian terbunuh. Faham inilah yang menjadi faham radikal, menjadi dasar ISIS, dengan faham ini mereka berdoktrin siapapun di dunia walaupun muslim bila tidak bertahkim dengan Al qur’an, berarti dia berdosa besar, berarti kafir, berati halal di bunuh, bila berzinah walau muslim adalah kafir, durhaka kepada orang tua adalah kafir, termasuk segala apa saja yang tidak bertahkim dengan al qur’an adalah kafir. Pada perkembangan siapa yang tidak ikut khawarij mereka golongkan juga berdosa besar, sehingga mereka golongkan kafir juga.  
    Dari sini kita dapat melihat benang merahnya dan setelah kita menelaah tentang ISIS, fahamnya sama persis dengan khawarij ini. Maka boleh dikatakan bahwa ISIS adalah Khawarij dizaman sekarang ini. Ancaman terhadap ummat dan NKRI? - Faham yang dikembangkan ISIS memecahbelahkan ummat, apakah dia secara sembunyi-sembunyi, atau melalui berbagai media dia menularkan faham itu, mereka merekrut dengan ayat-ayat al qur’an dan hadits-hadits yang rasional dan fasih, kesimpulannya ummat Islam wajib hijrah dari Darul Kufur ke Darul Islam, Indonesia divonis mereka termasuk Darul Kufur karena dianggap tidak melaksanakan syari’at Islam, maka menurut mereka ummat Islam Indonesia wajib hukumnya hijrah ke Darul Islam, untuk hijrah itu harus berbai’at kepada Imamnya, persoalannya untuk membai’at harus membayar dengan bayaran tertentu, untuk mendapat uang tersebut didoktrin boleh berdusta dengan orangtua karena orangtua dianggap kafir, jadi boleh tidak taat, tidak boleh bercerita kepada siapapun kecuali kepada kelompok itu. Mematahkan tentang hijrah ini, mengutip hadits “Tidak ada hijrah setelah pembebasan kota mekkah” (hadits riwayat Bukhari Muslim) - Faham ini akan meracuni anak-anak muda, terutama karena serba kehidupan sekarang ini serba instan, kehidupan hedonis, keluarga tidak harmonis, menimbulkan stress, stress bisa lari ke narkoba, atau malah mereka bergabung ke ISIS. - Menimbulkan rasa ketakutan yang sangat didalam masyarakat, was-was yang luar biasa, jangan-jangan menjadi sasaran, baik oleh aparat pemerintah sendiri maupun dari ISIS, menimbulkan rasa tidak tentram dan tenang dan seterusnya. 
    Membawa goyahnya sendi-sendi kebangsaan dan bernegara, Pancasila akan dipersoalkan, UUD 1945 akan dipersoalkan, karena dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam, mulai dari yang kelihatan sepele tidak mau hormat bendera, karena dianggap perbuatan syirik, mereka mengisolir diri dan lingkungan, dll. - Kebangsaan dan Negara dianggap tidak ada, karena Darul Islam tidak mengenal kebangsaan dan negara, kebangsaan adalah muslim yang berbaiat kepada mereka, wilayahnya adalah dimana saja muslim yang berbaiat, maka disitu adalah wilayah Islam. 
    Sebab-sebab Berkembangnya Faham Radikalisme - Faham ini timbul sudah menyimpang dan keluar dari pemahaman keislaman yang benar, karena ada unsur politik yang menumpang didalamnya, sejarah membuktikan perpecahan Islam karena ambisi-ambisi orang orang tertentu seperti telah dipaparkan di atas, dengan menggunakan simbol-simbol keIslaman, dan karena ketidakmauan atau kelemahan pemimpin Islam dalam berpolitik (=tipu daya). 
Karena tekanan pihak tertentu, terus menerus ditakut takuti, mereka terus menerus ditindas, sehingga lalu melampiaskan, semula sembunyi-sembunyi, mereka nekat menampakkan diri secara frontal. 
Perlu difahami tidak hanya ISIS yang berfaham ini, Ikhwanul Muslimin juga, al Qaeda, An Nusra, dll, kenapa ISIS membesar, karena mampu menguasai sebagian besar Irak dan Suriah yang kaya sumber minyak, modusnya mereka menyerang yang banyak senjata/gudang senjata, mereka rebut, makanya senjata-senjata mereka canggih-canggih, minimal senjata otomatis. 
Faktor politik membuat perpecahan ummat Islam, sejarah membuktikannya, faham faham itu berimplikasi berakibat kepada aqidah, semua kyai mengatakan bahwa kalau bermimpi bertemu dengan Nabi maka itu adalah benar, karena Iblis tidak bisa menyerupai Nabi, dan pada prinsipnya sama dengan bertemu nabi secara lahir/zahir, tapi kenapa ketika sahabat bertikai dan berperang tidak di datangi Nabi, seandainya Nabi menemui mereka dalam mimpi tidak terjadi seperti yang uraikan di atas, sehingga tidak terjadi peperangan antar sahabat tadi, maka ini berimplikasi pada saat sekarang, pada penggoyahan keyakinan, sehingga kalau ada kyai yang mengaku didatangi nabi dalam mimpi adalah bohong, sahabat saja tidak. Mengapa nabi tidak menemui sahabat waktu saling perang?, yang tahu Rasul sendiri, Nabi tidak bisa diserupai syaitan, betul, ada hadistnya itu, tetapi iblis bisa mengaku dan bilang bahwa dia Nabi, karena kita tidak pernah tahu wajah nabi, kita tidak boleh cerita bahwa ketemu Nabi
Orang syiah punya doktrin yaitu “Takliyah” = menyembunyikan identitas demi keamanan dirinya, kadang-kadang dia ikut suni, merendah sekali, pada saat dia tidak kuat, masih lemah. Bila kuat maka dia muncul aslinya dan memberontak, mereka beri’tikad pada aqidah, ini paling sulit untuk dipersatukan. 
Aqidah mereka sangat kuat mereka pegang, mereka punya Imam, dua belas, dan menurut mereka masih hidup, sedang bersembunyi Gua syardap di Irak, imam mereka yang bernama Ahmad Al Asykari, imam mahdi bagi mereka yang umurnya sudah 1000 tahun, yang sewaktu-waktu akan muncul ini yang ditunggu-tunggu mereka. 
Tidak menerima hadits dari ahlul sunnah jamaah, mereka punya hadits sendiri, dalam kitab namanya Ushul Khafi, mereka hanya berimam kepada Ja’far Ashadiq dari ahlul bait, bagi mereka hadits-hadits inilah yang sejajar dengan Bukhari, tapi anehnya hadits Bukhari mereka tolak, ada perbedaan hukum dan rukun iman yang berbeda dengan Ajaran Islam, ini berat dipersatukan. 
Syiah jadi sasaran ISIS, semula gerakan regional Irak dan Suriah, tetapi sekarang internasional jadi IS = Islamic State = negara islam, bantuan dana dari perorangan bukan atas nama negara tapi berasal dari berbagai negara, pengusaha-pengusaha besar Saudi Arabia banyak yang membantu ISIS karena merasa suni, yaitu wahabi, sebagai tindak lanjut mazhab hambali, bedanya hanya sedikit, wahabi agak ekstrem, agak kaku dan tidak elastis, sangat tekstual. 
Mereka tidak mengikuti mazhab manapun, karena mereka punya mazhab sendiri. - Yahudi bisa dibedakan antara keturunan bangsa dan sebagai agama. Karenanya tidak semua orang Bani Israil beragama Yahudi, tetapi orang beragama Yahudi pasti Bani Israil - Islam banyak kamar, masing-masing mazhab banyak lagi kamar-kamarnya masing-masing, kalau sudah bersoal politik yang berimplikasi pada aqidah, maka Islam sulit disatukan. Bagaimana mempersatukan, sulit dirumuskan. Cara berpikir bila rasional maka menjadi faham mu’tazilah, fahamnya, tetapi bukan berarti orang mu’tazilah, kalau mu’tazilah yang asli harus mengacu dan berbaiat pada ushulul khamsahnya. 
Tindakan yang menyakitkan kepada masyarakat, rasa takut karena faktor ekonomi, orang menjadi radikal sehingga mau melakukan Bom Bunuh diri, banyak faktor, tidak 100 persen karena doktrin, tapi faktor kekecewaan dan prustasi, putus asa sudah, baik mati saja sudah, supaya mati bermanfaat, lalu agama dijadikan sebagai alasan, tidak tahu apakah dia mujahid atau bukan. Kalau karena agama, agama tidak membenarkan bunuh diri, apapun alasannya. Kalau mati syahid dalam perang, beda dengan bunuh diri. 
Contoh tumbangnya Iran oleh Khomaini, dia orang tua yang renta jalan saja terhuyung-huyung, Iran pada waktu itu dipimpin Syah Pahlevi yang mempunyai tentara terkuat di Timur Tengah pada waktu itu karena didukung Amerika, tetapi tumbang, bukan dengan kekuatan senjata, tapi lewat doktrin Syiah Imamiyah, mereka lebih taat kepada Imam/Ulama dibanding Kepala Negara/Umara, sehingga tentaranya dan masyarakatnya yang sangat menghormati Khomaini bisa menumbangkan Syah Pahlevi. 
Media turut memperbesar ISIS, bisnis media : Berita buruk adalah berita baik (= bad news is good news). 
Istilah teroris, kita tidak setuju, karena menyangkut persoalan politik, lebih tepat disebut Islam Radikal, karena mereka mencapai tujuan dengan cara-cara kekerasan, dan semua agama punya sekte yang berfaham radikal, contoh ada kristen ortodok, protestan, dan kenapa eropa pada abad pertengahan disebut zaman kegelapan, karena dominasi gereja pada waktu itu, sampai dengan akibatnya banyak yang kemudian anti agama atau Atheis. 
    Kesimpulan : Faham radikalisme dalam Islam tumbuh dan berkembang sepanjang sejarah, adalah fakta, faham radikalisme tidak hanya dimiliki oleh Islam sebagai agama tetapi juga agama-agama yang lain, banyak contoh sebenarnya, Amerika terhadap bangsa Indian, Hitler terhadap Yahudi, contoh mutakhir adalah genocide penganut budha di Myanmar terhadap Muslim Rohingya, Basar Asad atas nama Syiah terhadap Muslim Allepo, dan lain-lain. Upaya kita adalah untuk memberikan pengertian kepada ummat akan arti Rahmatan lil ‘alamin bahwa Islam dilahirkan untuk ketentraman dan kedamaian dunia, apabila ini dikembangkan, apapun aliran kita, apapun faham kita, apapun mazhab kita, orientasi hanya satu yaitu demi kesejahteraan ummat manusia, kita tidak memaksa orang mengikuti pendapat kita, kita tidak boleh memaksa orang sesuai kehendak kita, tetapi yang kita inginkan adalah kebersamaan membangun dunia ini. 
    Wallahu’alam bish-shawab. 

*)Penyuluh Agama Islam pada Kementerian Agama Kab.Banjar KUA Sungai Tabuk
 Wakil Sekretaris ICMI Orwil Kalsel 
Wakil Sekretaris IGI Wilayah Kalsel 
Wakil Sekretaris Koalisi Kependudukan Kalsel

Komentar

  1. Mencerahkan....sekiranya pemimpin kita memilki semangat jihad akan banyak persoalan keummatan yg teratasi. Keadilan, kesejahteraan dalam banyak bidang kehidupan tidak hanya mimpi dan penghias bibir/janji manis saat kampanye. Demikian pula dengan peraktek korupsi kebijakan dan anggaran lahir muncul karena jiwa mujahid kering dalam rongga dada pemimpin kita. Maka jadilah program dan anggaran tidak mampu menyentuh kepentingan sejati masyarakat, dan jadilah ia "program kertas" manis pada tataran idealis dengan retorika bersusun kata membius hayal dan mimpi rakyat kita.
    Radikalisme bila melihat sejarah lahir karena kesenjangan ketidakpuasan atas suatu peradaban dan juga karena ambisi kekuasaan. Kekuasaan dimaknai kepuasan, dilihat dengan syahwat nikmatnya hidup berkuasa dengan segala fasilitasnya. Padahal sejatinya kekuasaan itu sarana kita berjihad berevolusi menuju perubahan dengan harta dan jiwa dalam banyak lapangan kehidupan, menyentuh kepentingan publik menimbulkan maslahah dalam persoalan keummatan, ketika ummat sejahtera damai tidak heran beragam janji mulia dan kehormatan Allah sandingkan untuk pribadi pribadi mujahid. Pemimpin yang kemarau dari semangat jihad mereka sesungguhnya menjadi salah satu pemicu radikalisme, Selamat berjihad.

    BalasHapus
  2. Terima kasih atas tanggapan, ulasan dan komentarnya, saya sangat menghargainya, step by step pada kondisi kita sekarang ini, apa yang bisa kita mampu lakukan dulu yaitu melepas stigma, baca juga tulisan saya di blog ini: Mencegah Radikalisme Berbasis Agama Menurut Persfektif Islam, salam hormat saya .......

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gerak Senyap Kemenag Banjar dan Menyikapi Musibah Banjir

Upaya Penanggulangan & Penanganan Covid 19

Opini Prihatin Musibah Banjir Kalsel 2021