K H AHMAD ANSHARI
KH AHMAD ANSHARI
K.H. Ahmad Anshari bin Hasan Basri Al-Banjari.
Lahir
di kota Banjarmasin jalan Nagasari pada hari Senin 16 November 1956. Pada usia
6 tahun beliau masuk sekolah SDN Melati, jalan Cempaka 7 & selesai pada
tahun 1969. Kemudian beliau melanjutkan ke pesantren Darussalam Martapura. Pada
usia 13 tahun beliau masuk tarekat Syadziliyah, beliau berbaiat kepada Tuan
Guru Muhammad Noor dalam pagar.
Ketika
naik ke tingkat aliyah, ia berguru kepada almarhum Guru Sekumpul, atau akrab
dipanggil “Guru Ijai”/Syekh Ahmad Zaini bin Abdul Ghani kemudian belajar kitab
hadits Al-Arba’in kepada K.H. Syarwani Zuhri, pengasuh PP Albanjari di
Balikpapan, juga kepada almarhun Tuan Guru Salim Ma’ruf, sebagai pemimpin PP
Darussalam waktu itu. Namun belum selesai pelajarannya, Ahmad Anshari keluar,
karena kekurangan biaya.
Ketika
menganggur, Ahmad Anshari muda sempat ikut bekerja sebagai pendulang intan, dan
pekerjaan kasar lain, sehingga pada suatu kali ada orang yang mengajaknya untuk
bekerja di Makkah pada tahun 1975. Pikirnya, di Tanah Suci, selain bekerja, ia
juga bisa belajar kepada para guru atau ulama di sana.
Pekerjaan
pertama yang dilakukannya adalah sebagai penjaga Pom Bensin, dan
berganti-ganti dengan pekerjaan kasar lainnya.
Hampir
selama delapan tahun, ia bekerja dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain. Dan
sempat pula ia belajar di Madrasah Shaulatiyah setahun. Tetapi karena beratnya
beban pekerjaannya, akhirnya aktivitas sekolahnya berhenti, dan meneruskan
pelajarannya kepada beberapa guru dan ulama secara penggal waktu.
Setelah
berganti-ganti pekerjaan, Anshari muda akhirnya mendapatkan pekerjaan yang
cocok, yaitu sebagai penjaga toko Arloji, yang akhirnya oleh pemiliknya ia
diserahi sekaligus sebagai manajernya. Di toko arloji inilah ia bekerja hingga
13 tahun. Jadi sudah 20 tahun ia bekerja di Arab Saudi. Di toko ini pula,
banyak sekali kesempatannya untuk belajar secara otodidak dengan membaca
kitab-kitab kuning usai bekerja. Kadang ia juga belajar kepada berbagai ulama
yang ada di Saudi, seperti Sayyid Muhammad Al-Maliki, Habib Salim bin
Abdurrahman Assegaf, serta beberapa ulama Tijani, seperti Syaikh Idris bin
Muhammad Abid Al-Iraqi dan Syaikh Hassan Az-Zakani. Ia banyak sekali menerima
ijazah atas buku-buku karya kedua ulama Tijani itu.
Di
Saudi pula, Anshari mendapatkan jodohnya, yaitu Hajjah Risnawati binti
Abdulmuthalib, yang waktu itu sedang melaksanakan ibadah haji bersama orangtuanya.
Mereka kini dikarunia sembilan anak. Yaitu Haji Muhammad Raihah (Jakarta), Haji
Abdul Nasir (Banjarmasin), Haji Toha (Banjarmasin), Haji Muhammad Zaini
(Al-Azhar Mesir), Hajjah Ruqayah (Banjarmasin), Haji Muhammad Taufiq
(Banjarmasin), Haji Fathi (Banjarmasin), Haji Hatim (Banjarmasin), dan Maftuh
Ahmad (Banjarmasin).
Sedang
istri keduanya, Hajjah Mariatul Aslamiah binti Ali, belum punya anak.
Shalat
di Dalam Ka’bah
Pada
tahun 1988, K.H. Anshari pulang ke Indonesia, dan pada tahun itu juga ia
ditalqin K.H. Badri Masduki dari Probolinggo menjadi ikhwan Tarekat Tijani.
Namun, beberapa tahun di Indonesia sebagai pengusaha biro perjalanan haji dan
umrah, ia seperti ada isyarat untuk kembali ke Saudi lagi. Akhirnya pada tahun
1990, ia kembali ke Saudi dan bekerja di toko arloji itu.
Tahun
itu pula, ia bertemu Syaikh Idris, ahli hadits asal Maroko, muqaddam Tarekat
Tijani, dan kemudian ditalqin menjadi muqaddam Tijani.
Begitu
juga ketika ia bertemu Syaikh Hassan Az-Zakani, ulama terkenal yang menjadi
salah satu guru Sayyid Muhammad Al-Maliki, seperti ada isyarat tertentu. Ia
mendapatkan surat dari Syaikh Hassan Az-Zakani untuk bertemu di Makkah, sedang
sebelumnya keduanya belum pernah bertemu dan berkenalan. Subhanallah, ketika
keduanya bertemu, seperti teman lama yang lama berpisah. Di Baitullah, K.H.
Anshari ditalqin kembali menjadi muqaddam oleh Syaikh Hassan Az-Zakani.
KH
Ahmad Anshari masuk tarekat Tijaniyah dikarenakan pernah bermimpi, berada
disalah satu Zawiyah Tarekat Tijaniyah. Padahal ia belum pernah mendengar &
belajar Tarekat Tijani.
Sanad/Silsilah
Tarekat Tijani yang diterima KH Ahmad Anshari yakni pertama dari KH Badri
Masduqi Probolinggo kemudian dengan Syekh Idris Al-Iraqi yang menerima lagi
dari gurunya Syekh Muhammad Hafiz Al-Mishri yang menerima dari gurunya Syekh
Ahmad Sukairij Al Marakeshi yang menerima lagi dari gurunya Syekh Ahmad
Abdulawi At-Tijani yang menerima dari gurunya Syekh Ali At-Tamasini yang
menerima dari gurunya Quthbil Maktum Syekh Abul Abbas Ahmad bin Muhammad
At-Tijani Yang menerima langsung dari Rasulullah Saw
Sebetulnya,
pada tahun 1991, K.H. Anshari sudah memutuskan untuk berhenti dari kerjanya di
Makkah serta pulang ke Indonesia, tetapi ia tidak diperbolehkan oleh gurunya,
Syaikh Idris. Pesannya, nanti akan ada isyarat kapan ia boleh pulang ke
Indonesia.
K.H.
Anshari mendirikan zawiyah Tarekat Tijani dan majelis ilmu di kawasan Sulaimaniyah
hingga 1995. Pada tahun 1995 itu juga,
ia mendapat izin untuk pulang ke Indonesia. Bahkan, tidak tanggung-tanggung,
Syaikh Idris sendiri yang mengantarnya sampai ke rumah di Banjarmasin. Sedang
pada waktu itu, gajinya di toko arloji akan dinaikkan 100%. Namun iming-iming
tidak menggoyahkannya untuk mematuhi perintah gurunya pulang ke Indonesia.
Tugas menjaga zawiyah diserahkan kepada K.H. Hasbullah Al-Banjari hingga saat
ini.
Pada
saat itu, bulan Agustus-September 1995, Syaikh Idris sempat satu bulan di Indonesia,
sehingga berhasil bertemu para muqaddam dan ikhwan di berbagai kota di
Indonesia. Syaikh Idris sempat menalqin ribuan orang Indonesia menjadi ikhwan
atau muqaddam Tarekat Tijani.
K.H.
Anshari merasa mendapatkan nikmat besar selama tinggal di Makkah, yaitu, ketika
Baitullah direhab pada 1995, ia mendapat izin dari Kerajaan Saudi menjadi salah
satu orang yang diperkenankan masuk ke dalam Ka’bah. “Di situ saya shalat
sunnah empat rakaat, dan merasakan begitu dalam pengalaman ruhani yang sulit
diceritakan dengan kata-kata,” ujarnya.
Pengasuh
Pondok
Di
Indonesia, K.H. Anshari mendirikan usaha biro perjalan dengan bendera “PT
Bhuana Etam Lestari”, yang beralamat di Jalan Simpang Tiga Cempaka Sari 19 RT
24 Banjarmasin 70117, yang kemudian berkembang lagi menjadi ”Muslimun Travel”,
yang dijalankan anak-anaknya.
Salah
satu hasil dari usahanya ini, ia mendirikan Yayasan Al-Anshari, yang hasilnya
di antaranya adalah mendirikan Ma’had Al-Anshari, yaitu pondok pesantren untuk
anak-anak balita khusus untuk menghafal Al-Qur’an. Di pondok ini para santri
dididik di asrama dan dibiayai secara gratis, yaitu makan minum, penginapan,
serta keperluan sekolah, hingga pakaian serta keperluan sehari-hari, seperti
susu dan perawatan kesehatan. Ketika didirikan pada tahun 2009, ada sekitar 100
anak, tetapi dalam perjalanan waktu kini tinggal 56 anak. Mereka berumur antara
lima hingga sembilan tahun. Sekarang sudah ada yang hafal 27 juz, dan insya
Allah akan mengadakan khataman pada tahun ini untuk beberapa murid yang sudah
lulus hafal Al-Qur’an 30 juz.
Selain
itu, K.H. Anshari juga aktif di Tarekat Tijaniyah dan membina zawiyah di Kalimantan,
Bangka, dan Batam. Puluhan zawiyah dan ribuan ikhwan sudah dihimpunnya,
sehingga muridnya tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Karena itu, oleh
jama’ahnya di Sumatera, K.H. Anshari akrab disapa “Abuya”.
Dalam
berdakwah di masyarakat, usaha biro perjalanan, dan aktif di Tarekat Tijaniyah,
K.H. Anshari membagi waktunya dalam setahun menjadi tiga bulan di Banjarmasin,
tiga bulan di Saudi, dan enam bulan mondar-mandiri di berbagai kota di Indonesia.
Bahkan di Tarekat Tijani di Indonesia, perannya juga seperti menteri luar
negeri, dialah yang menjadi penghubung antara para ulama Tijani di Timur Tengah
maupun Afrika untuk datang ke Indonesia. Begitu juga sebaliknya, ia pula yang
akan memfasilitasi para muqaddam maupun ikhwan yang ingin ke Timur Tengah atau
Maroko, pusat Tarekat Tijaniyah di dunia.
Bunga
Mawar
K.H.
Anshari dikenal juga sebagai penulis buku-buku keagamaan. Hampir 14 buku telah
terbit, berkisar tentang berbagai topik agama, seperti tuntunan shalat,
tuntunan mencari rizqi, masalah Tarekat Tijaniyah, dan syarah tentang Maulid
Burdah karya Imam Bushiri. Uniknya semua buku itu diterbitkan sendiri dan
dibagikan secara gratis.
“Banyak
orang yang ingin membeli, tetapi karena jumlahnya terbatas tidak terlayani.
Sedang Abuya sendiri tidak ingin karyanya dikomersialkan, semata-mata untuk
dakwah,” ujar Ustadz Haji Hasbi, adik sekaligus pembantu utamanya di pondok
pesantren.
Bakat
menulis K.H. Anshari sangat terpangaruh berbagai kitab ulama luar negeri maupun
dalam negeri. Salah satunya adalah Hamka. “Beliau dapat memadukan keindahan
sastra dan kedalaman ilmu, sehingga enak dan mudah dibaca untuk pembaca segala
umur. Saya sejak muda sangat menggemari semua buku karya Hamka,” ujar K.H.
Anshari.
Sedang
kecintaannya kepada Maulid Burdah sudah terbangun sejak kecil, yaitu ketika ia
mengalunkan syair-syair merdu Burdah itu di masjid bersama para jama’ah. Di
Kalimantan Selatan, pembacaan Maulid Burdah masih berjalan di masjid pada malam
tertentu hingga sekarang. Hatinya tergetar dan merasakan kehadiran Nabi
Muhammad SAW di tengah jama’ah Burdah itu.
Rencananya,
buku syarah Maulid Burdah K.H. Anshari, yang diberi judul Bunga Mawar, insya
Allah akan ditulis dan diterbitkan sebanyak 162 jilid, yaitu sebanyak nazham
syair di Maulid Burdah itu. Sekarang sudah terbit tiga jilid, syarah atas tiga
syair pertama. Berikutnya, buku keempat sudah jadi tetapi belum dicetak, karena
menunggu editing. “Semoga Allah memberikan saya umur panjang dan kekuatan
untuk melaksanakan cita-cita itu,” tuturnya.
Beliau wafat pada tanggal 22-November-2020

Komentar
Posting Komentar